Kamis, 02 Maret 2017

LAPORAN PRAKTIKUM

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Respirasi merupakan proses penghasil energi di dalam tubuh makhluk hidup. Selain dihasilkan energi dihasilkan juga karbon dioksida yang harus dikeluarkan dari tubuh.
Pada manusia bila bernapas mengeluarkan nafas, secara maksimal, di dalam paru-paru masih ada udara. Sisa udara ini disebut udara residu. Bila nafas dikeluarkan secara biasa, maka paru-paru masih mengandung udara dan disebut udara cadangan. Bila menghirup dan mengaluarkan napas secara biasa, maka ini disebut udara pernapasan. Jika kita tarik nafas dalam-dalam, selain udara pernapasan juga masih dapat dimasukkan udara lagi dan ini disebut udara komplementer.
Pada serangga sistem trakea merupakan alat untuk mengambil oksigen dari luar, mendistribusikannya ke seluruh tubuh dan mengeluarkan karbon dioksida. Udara masuk ke trakea dengan cara difusi melalui spirakel atau dibantu oleh ventilasi udara.
Sistem trakea pada belalang cukup khas seperti yang terdapat pada serangga dan serangga pada umumnya. Trakea-trakea bermula pada lubang-lubang kecil pada eksoskeleton (kerangka luar) yang disebut spirakel. Pada serangga yang lebih kecil atau kurang aktif masuknya O2 melalui sistem trakea dengan fungsi yang sederhana. Sebaiknya serangga yang berukuran beras dan aktif seperti belalang dengan gait melakukan pertukaran udara dengan trakeanya.
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah  dalam laporan praktikum ini adalah kecepatan dan jumlah oksigen yang digunakan dalam pernafasan kecoa.
C.    Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengukur kecepatan dan jumlah oksigen yang digunakan dalam pernafasan kecoa.
BAB II
DASAR TEORI DAN HIPOTESIS
A.    Dasar Teori
Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh tubuh per satuan waktu (Seeley, 2002). Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi karena respirasi merupakan proses ekstraksi energi dari molekul makanan yang bergantung pada adanya oksigen (Tobin, 2005). Secara sederhana, reaksi kimia yang terjadi dalam respirasi dapat dituliskan sebagai berikut:
C6H12O6 + 6O2 → 6 CO2 + 6H2O + ATP
(Tobin, 2005).
Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya oksigen yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkan karena oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang diketahui) untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya. Akan tetapi, laju metabolisme biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen.
Beberapa faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen antara lain temperatur, spesies hewan, ukuran badan, dan aktivitas (Tobin, 2005).
Kontraksi pada otot belalang memipihkan organ-organ kendur, pernapasan ini dikenal dengan pernapasan vital paru-paru dan pada titik ekspirasi maksimum kira-kira (udara residu) tetap ada di paru-paru. Untuk mengerti respirasi hewan maka kita tidak hanya memandang sifat dari alat pernapasanya saja tetapi mekanisme yang digunakan untuk mengendalikan respirasi dan adaptasi terhadap lingkungan berbeda-beda. Bersama dengan fungsi homoiostatik yang lain, respirasi hewan harus diintegrasikan dan dikoordinasikan dengan kegiatan pengendalian yang lain.
B.     Hipotesis
Berdasarkan dasar teori yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis praktikum ini adalah kecepatan dan jumlah oksigen yang digunakan dalam pernafasan kecoa
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
Pukul            :    07.30 – 11.30 Wita
Hari              :    Rabu
Tanggal        :    6 Januari 2016
Tempat         :    Laboratorium Biologi STKIP Muhammadiyah Bulukumba
B.     Alat dan Bahan
1.      Respirometer
2.      Belalang/specimen hewan (kecoa)
3.      Kristal KOH/NaOH
4.      Kapas
5.      Vaselin
6.      Tinta atau eosin
C.    Prosedur Kerja
1.      Masukkan kurang lebih 10 kristal KOH/NaOH kedalam tabung specimen yang fungsinya untuk mengikat CO2, setelah itu tutup dengan selapis kapas agar spesimen tidak bersentuhan dengan KOH
2.      Masukkan spesimen (kecoa) ke tabung spesimen, kemudian tabung spesimen ditutup rapat dengan pipa kapiler berskala diberi plastisin atau vaselin.
3.      Tutup ujung kapiler dengan ujung jari selama 2-3 menit. Setelah ujung jari dilepas gunakan pipet tetes atau siring injeksi untuk menutup ujung pipa kapiler dengan cairan berwarna (eosin).
4.      Perhatikan perubahan kedudukan cairan berwarna selang waktu tertentu, misalnya 2 menit sekali. Data hasil pengamatan disajikan dalam bentuk table.
5.      Berdasarkan data hasil pengamatan, dapat dihitung penggunaan oksigen oleh specimen dalam ml/g/menit

D.    Pengumpulan data
1.      Data
Sumber data praktikum ini adalah kecoa, sedangkan jenis data yang diperoleh berupa kecepatan dan jumlah oksigen yang digunakan dalam pernafasan kecoa.
2.      Metode pengumpulan data
a.       Metode observasi dan identifikasi
Mengamati dan mengidentifikasi pernafasan yang terjadi pada kecoa. Pengamatan pada setiap katak hasilnya dicatat dalam lembar pengamatan. Pengidentifikasian kecoa yang diidentifikasi disandingkan dengan literatur berupa buku dan internet.
b.      Melakukan pengambilan gambar pada tiap-tiap sampel yang ada
Setelah diamati, objek/sampel tersebut praktikan melakukan pengambilan gambar pada tiap-tiap sampel yang ada dengan menggunakan kamera.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
No
Hewan yang di amati
berat
Jarak yang ditempuh
Rata-rata permenit
Rata-rata ml/g/gr
2’
4’
6’
8’
10’
1
kecoa
0,8 gram
0,24
0,45
0,62
0,65
0,71
0,048
0,06


B.     Pembahasan
Pada praktikum repirasi kali ini menggunakan serangga (kecoa) yang dimasukkan ke dalam respirometer. Serangga ini dimasukkan ke dalam tabung respirometer kemudian dimasukkan eosin yang berfungsi untuk mengikat O2, namun eosin harus dibungkus terlebih dahulu dengan menggunakan kapas sebelum dimasukkan ke dalam tabung. Hal ini dimaksudkan untuk memisahkan serangga dengan zat kimia karena serangga akan mati bila bersentuhan dengan eosin. Kemudian pada ujung pipa kapiler diberi cairan untuk memisahkan udara yang ada di dalam tabung dan udara yang ada di luar tabung.
Pernapasan pada serangga dengan menggunakan trakea dimana udara yang ada masuk secara difusi, penyebab terjadinya difusi pada belalang karena dalam proses respirasi khususnya pada belalang, O2 agar dapat dipindahkan dari lingkungan ke dalam tubuh melintasi membran respirasi yang permukaannya pada tiap serangga tidak sama dan juga membran ini mengandung kapiler, sehingga agar masuk ke dalam tubuh serangga harus melalui mekanisme difusi secara pasif. Sistem pernapasan trakea pada serangga yaitu udara masuk melalui stigma, dan masuk ke dalam trakea, terlebih dahulu udara ini disaring oleh rambut-rambut halus yang terdapat pada stigma sehingga udara dan debu dapat dipisahkan. Karena adanya kontraksi tubuh yang menjadikan tubuh serangga kembang kempis sehingga pembuluh trakea ikut kembang kempis. Akibatnya udara dapat beredar keseluruh bagian sel tubuh dan diedarkan oleh trakeolus yaitu cabang-cabang kecil trakea yang menembus jaringan kecil.
Pada proses respirasi ditandai dengan bergeraknya air pada pipa kapiler. Persamaan reaksi antara eosin dan CO2 yaitu:
Ca(OH)2 + CO2     CaCO3 + H2O
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
1.      Respirasi adalah suatu proses pengambilan oksigen dan CO2 untuk proses pembakaran (oksidasi).
2.       karena mempunyai kemampuan untuk mengikat CO2.

B.     Saran

Dalam penyusunan laporan ini kami menyadari masih banyak kesalahan dan kekurangan. Maka dari itu kritik dan saran dari pembaca merupakan modal utama kami untuk meraih kesuksesan. Akhirnya tiada kata yang paling indah kecuali puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berjuta nikmat yang tercurah dan masih dapat kita rasakan sampai saat ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar