Kamis, 02 Maret 2017

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN - KATAK

SISTEM SARAF PUSAT SEBAGAI PENGENDALI GERAK REFLEKS
(KATAK)

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Berbeda dengan tumbuhan, hewan mempunyai daya gerak, cepat tanggap terhadap rangsang eksternal, tumbuh mencapai besar tertentu, memerlukan makanan dalam bentuk kompleks dan jaringan tubuhnya lunak. Setiap individu, baik pada hewan yang uniseluler maupun pada hewan yang multiseluler, merupakan suatu unit. Hewan itu berorganisasi, berarti setiap bagian dari tubuhnya merupakan subordinate dari individu sebagai keseluruhan, baik sebagai bagian satu sel maupun seluruh sel.
Sistem saraf merupakan suatu sistem yang mengatur kerja semua sistem organ agar dapat bekerja secara serasi. Sistem saraf itu bekerja untuk menerima rangsangan, mengolahnya dan kemudian meneruskannya untuk menaggapi rangsangan tadi. Setiap rangsangan-rangsanga yang kita terima melalui indera kita, akan diolah di otak. Kemudian otak akan meneruskan rangsangan tersebut ke organ yang bersangkutan. Setiap aktivitas yang terjadi di dalam tubuh, baik yang sederhana maupun yang kompleks merupakan hasil koordinasi yang rumit dan sistematis dari beberapa sistem dalam tubuh.
Sistem saraf pada hewan terbagi atas dua yakni sistem saraf hewan tak bertulang belakang dan sistem saraf hewan bertulang belakang struktur dan bentuknya masing-masing tetapi sistem saraf hewan tak bertulang belakang (Avertebrata) dan sistem saraf hewan bertulang belakang (Vertebarata)  memiliki kesamaan fungsi, dimana sistem sarah berfungsi untuk megnatur dan mengendalikan kerja alat-alat tubuh, mengetahui perubahan ang terjadi pada lingkungannya, serta mengatur dan mengendalikan tanggapan terhadap rangsangan yang datang dari lingkungan. Sistem sarah hewan bertulang belakang  (Vertebrata) seperti hewan mamalia, burung, amfibi, ikan, sedangkan sistem sarah pada hewan tak bertulang belakang (Avertebrata) adalah cacing, serangga, ubur-ubur dan Hydra sp.
Sistem saraf adalah jaringan sel-sel saraf dan, pada kebanyakan hewan termasuk juga otak. Dalam vertebrata, juga termasuk sumsum tulang belakang. Jenis sel utama yang ditemukan dalam sistem saraf adalah neuron, yang memiliki sel tubuh, yang mengandung inti, dan ekstensi panjang untuk membawa informasi dari satu bagian tubuh ke bagian lain.
Sistem saraf memiliki dua fungsi utama yang sangat penting dalam mempertahankan hidup organisme. Pertama, reseptor sensorik memungkinkan organisme untuk memantau lingkungan eksternal dan mendeteksi perubahan yang terjadi (misalnya, peningkatan suhu). Sistem saraf kemudian mengaktifkan struktur seperti otot dan kelenjar, yang memungkinkan organisme untuk merespon dengan tepat terhadap perubahan lingkungan (misal mengaktifkan kelenjar keringat saat suasana panas matahari). Kedua, sistem saraf juga memonitor lingkungan internal organisme, mengendalikan denyut jantung sehingga cukup darah dikirim ke organ, atau mengukur tingkat gizi untuk sinyal ketika organisme perlu untuk mendapatkan makanan.
Sistem koordinasi pada hewan meliputi sistem saraf beserta indera dan sistem endokrin (hormon). Sistem saraf merupakan sistem yang khas bagi hewan, karena sistem saraf ini tidak dimiliki oleh tumbuhan. Sistem saraf yang dimiliki oleh hewan berbeda-beda, semakin tinggi tingkatan hewan semakin komplek sistem sarafnya.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah  dalam laporan praktikum ini adalah bagaimana gerakan refleks yang dikendalikan oleh otak dan medulla spinalis.

C.    Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui macam-macam reflex yang dikendalikan oleh otak dan medulla spinalis.




BAB II
DASAR TEORI DAN HIPOTESIS
A.    Dasar Teori
Gerakan reflex adalah gerakan yang dilakukan tanpa sadar merupakan respon setelah adanya rangsang. Gerak refleks akan berhubungan dengan saraf-saraf yang ada dalam tubuh. Secara normal seseorang pasti akan mengalami gangguan pada system sarafnya. Pada umumnya gerak refleks berlangsung terhadap stimulus yang berasal dari luar tubuh, gerak refleks bukanlah gerak dibawah kesadaran dan kemauan, tetapi gerak yang disadari namun pelaksanaan serta respon yang ditimbulkan tidak terpikirkan lebih dulu (Yatim, 2007).
Refleks regangan adalah refleks dengan satu sinap pada lengkung refleksnya. otot sekelet besar terdiri atas banyak kumparan otot. Kumparan otot merupakan organ  sensori tanpa untuk mendeteksi perubahan panjang dan tekanan dari serabut otot. setiap kumparan berisi serabut otot modifikasi yang disebut serabut intrafusal. Pada bagian tengah setiap serabut intrafusal mempunyai reseptor regangan mekanik, yang berhubungan  dengan saraf sensori . peregangan otot mengaktifkan reseptor regangan, meneruskan rangsang kesaraf yang menuju korda spinalis. Dalam kodra spinalis, terminal kumparan serabut sensori membuat kontak eksitatori langsung dengan sinap neuron alfa motorik yang megurus otot yang sama. (Ratna, 1996).
Dalam pengertian sehari-hari refleks dapat digambarkan sebagai respon yang spontan dan otomatik terhadap suatu rangsang tanpa melibatkan otak. Dalam pengertian yang lebih luas, refleks merupakan mekanisme yang memulai semua aktifitas tubuh. Contoh refleks dalam pengertian sehari-hari adalah menutupnya kelopak mata dengan cepat bila ada benda yang mengenai mata, refleks baru akan terjadi bila didukung oleh lengkung refleks. Lengkung refleks pada umumnya terdiri dari reseptor, neuron, sensorik, pusat saraf, neuron motorik, dan efektor. Lengkung saraf yang sederhana hanya melibatkan dua rangkaian neuron antara reseptor dan efektor atau hanya mempunyai sebuah sinapsis antara neuron sensorik dengan neuron motorik dan disebut lengkung refleks monosinaptik misalnya pada lutut, jika lengkung saraf melibatkan satu atau lebih neuron penghubung antara neuron sensorik dan neuron motorik disebut lengkung refleks polisinaptik (Zulkarnain, 2011).
System saraf manusia mengandung paling tidak 10 bilion sel saraf yang merupakan komponen dasar system saraf. System saraf meliputi otak, sumsum tulang belakang ganglion dan saraf. Unit structural dan fungsional dari system saraf adalah sel saraf atau neuron. System saraf dikelompokkan  menjadi dua yaitu system saraf pusat dan system saraf tepi atau perifer. Setem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang, sedangkan system saraf tepi terjadi atas semua saraf yang letaknya diluar sumsum tulang belakang (Pagarra, 2010).
Sel saraf bekerja dengan cara menimbulkan dan menjalarkan impuls. Impuls dapat menjalar pada sebuah sel saraf, tetapi dapat pula menjalar ke sel lain dengan melintasi sinaps. Penjalaran impuls melintasi sinaps dapat terjadi dengan cara transmisi elektrik atau transmisi kimiawi (dengan bantuan neurotransmitter) (Wiwi, 2006)
B.     Hipotesis
Berdasarkan dasar teori yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis praktikum ini adalah system saraf pusat sebagai pengendali gerak refleks.


  


BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
Pukul            :    07.30 – 11.30 Wita
Hari              :    Rabu
Tanggal        :    6 Januari 2016
Tempat         :    Laboratorium Biologi STKIP Muhammadiyah Bulukumba

B.     Alat dan Bahan
1.      Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
a.       Papan dan alat seksi
b.      Aquarium (bak plastic)
c.       Lampu spiritus/bunsen
d.      Thermometer
e.       Gelas piala (600 cc)
f.       Alat penghitung
g.      Korek api serta pinset
2.      Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air, kapas, dan katak (Rana cancarivora).

C.    Prosedur Kerja
adapun prosedur kerja di dalam melakukan praktikum ini adalah :
1.      Katak normal
a.       Letakkan katak dengan posisi normal pada papan, mengamati kepala, mata dan anggota geraknya.
b.      Hitung frekuensi pernafasan per menit dengan cara menghitung gerakan kulit pada rahang bawah.
c.       Amati keseimbangan dengan cara:
·         Letakkan katak dalam posisi terlentang pada papan , memutar papan secara horizontal, mengamati posisi dan gerak kepalanya, mata dan anggota geraknya.
·         Miringkan papan perlahan-lahan sehingga kepala katak sedikit terangkat.
d.      Masukkan katak kedalam bak berisi air, mengamati cara berenangnya.
e.       Keluarkan katak dari air, meraba kekenyalan otot kakinya.
f.       Letakkan katak pada posisi normal kembali. Tarik salah satu kakinya ke belakang, mereba kekenyalan oto kaki tersebut dan kemudian malapaskannya.
g.      Cubit jari kaki dengan pinset. Apa yang terjadi ?
h.      Masukkan salah satu kaki kedalam gelas piala berisi air (suhu kamar), kemudian memanaskannya. Pada suhu berapa katak bereaksi ?
i.        Masukkan jari kaki yang lain ke dalam air panas (± 80ºC). Apa yang terjadi ?
2.      Katak coba 1
a.       Rusak otak katak dengan single-pithing, mengistirahatkan katak selama 5-6 menit untuk menghilangkan spinal shock.
b.      Beri Perlakuan seperti pada katak normal. Amati refleks yang terjadi!
3.      Katak coba 2
c.       Rusak otak katak dengan double-pithing.
d.      Beri Perlakuan seperti pada katak normal. Amati refleks yang terjadi!

D.    Pengumpulan Data
1.      Data
Sumber data praktikum ini adalah katak (Rana cancarivora), sedangkan jenis data yang diperoleh berupa refleks yang terjadi pada katak setelah diberi perlakuan, baik itu perlakuan pada katak normal, katak coba 1 (single pithing) dan katak coba 2 (double pithing).


2.      Metode pengumpulan data
a.       Metode observasi dan identifikasi
Mengamati dan mengidentifikasi refleks yang terjadi pada katak. Dimana gerak refleks dikendalikan oleh system saraf pusat yaitu otak dan medulla. Pengamatan pada setiap katak hasilnya dicatat dalam lembar pengamatan. Pengidentifikasian setiap gerak refleks yang terjadi pada katak yang diidentifikasi disandingkan dengan literatur berupa buku dan internet.
b.      Melakukan pengambilan gambar pada tiap-tiap sampel yang ada
Setelah diamati, objek/sampel tersebut praktikan melakukan pengambilan gambar pada tiap-tiap sampel yang ada dengan menggunakan kamera.


  

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil pengamatan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh data yang meliputi macam-macam refleks yang terjadi pada katak. Adapun data yang diperoleh adalah sebagai berikut:
1.      Katak normal
a.       Posisi Normal
Kepala : mendonga
Mata: sayup
Alat gerak tungkai depan : terlipat dan jari-jari terbuka
Alat gerak tungkai belakang : terlipat dan jari-jari terbuka
b.      Frekuensi pernafasan : 90 per menit
c.       Keseimbangan
Setelah diputar katak mengikuti arah putaran
Kepala : mendonga
Mata: sayup
Alat gerak tungkai depan : terlipat dan jari-jari terbuka
Alat gerak tungkai belakang : terlipat dan jari-jari terbuka
Posisi ketika papan dimiringkan
Kepala : mendonga
Mata: sayup
Alat gerak tungkai depan : terlipat dan jari-jari terbuka
Alat gerak tungkai belakang : terlipat dan jari-jari terbuka
d.      Cara berenang : berenang dengan aktif
e.       Otot kaki : kenyal
f.       Reaksi pada saat dicubit : melompat
g.      Reaksi pada saat dipanaskan
Sebelum dipanaskan pada suhu kamar normal : tidak ada reaksi
Ketika dipanaskan pada suhu 80ºC : bereaksi dengan menarik kakinya
2.      Katak coba 1 (single-pithing)
a.       Posisi Normal
Kepala : mendonga
Mata: sayup
Alat gerak tungkai depan : terlipat dan jari-jari terbuka
Alat gerak tungkai belakang : terlipat dan jari-jari terbuka
b.      Frekuensi pernafasan : 80 per menit
c.       Keseimbangan
Setelah diputar katak mengikuti arah putaran
Kepala : mendonga
Mata: sayup
Alat gerak tungkai depan : terlipat dan jari-jari terbuka
Alat gerak tungkai belakang : terlipat dan jari-jari terbuka
Posisi ketika papan dimiringkan
Kepala : mendonga
Mata: sayup
Alat gerak tungkai depan : terlipat dan jari-jari terbuka
Alat gerak tungkai belakang : terlipat dan jari-jari terbuka
d.      Cara berenang : berenang dengan aktif
e.       Otot kaki : kenyal
f.       Reaksi pada saat dicubit : melompat
g.      Reaksi pada saat dipanaskan
Sebelum dipanaskan pada suhu kamar normal : tidak ada reaksi
Ketika dipanaskan pada suhu 80ºC : bereaksi dengan menarik kakinya
3.      Katak coba 2 (double-pithing)
a.       Posisi Normal
Kepala : mendonga
Mata: sayup
Alat gerak tungkai depan : terlipat dan jari-jari terbuka
Alat gerak tungkai belakang : terlipat dan jari-jari terbuka
b.      Frekuensi pernafasan : 85 per menit
c.       Keseimbangan
Setelah diputar katak mengikuti arah putaran
Kepala : mendonga
Mata: sayup
Alat gerak tungkai depan : terlipat dan jari-jari terbuka
Alat gerak tungkai belakang : terlipat dan jari-jari terbuka
Posisi ketika papan dimiringkan
Kepala : mendonga
Mata: sayup
Alat gerak tungkai depan : terlipat dan jari-jari terbuka
Alat gerak tungkai belakang : terlipat dan jari-jari terbuka
d.      Cara berenang : berenang dengan tidak terlalu aktif
e.       Otot kaki : kenyal
f.       Reaksi pada saat dicubit : tidak ada respon
g.      Reaksi pada saat dipanaskan
Sebelum dipanaskan pada suhu kamar normal : tidak ada reaksi
Ketika dipanaskan pada suhu 80ºC : bereaksi dengan menarik kakinya

1. Gambar Katak Normal

2. Katak coba 1 (single-pithing)

                          3. Katak coba 2 (double-pithing)


                       
B.     Pembahasan
Salah satu contoh hewan amfibi adalah katak. Sistem saraf katak tersusun atas sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Hewan tersebut memiliki otak depan, otak tengah, otak belakang, dan sumsum lanjutan yang membentuk suatu sistem saraf pusat, sedangkan serabut-serabut saraf yang berasal dan sela-sela ruas tulang belakang membentuk suatu sistem saraf tepi. Otak besar berkembang memanjang sehingga berbentuk oval. Ujung depan otak besar berhubungan dengan indra pencium. Otak tengah berkembang cukup baik dan berhubungan dengan indra penglihat (lobus optikus). Otak kecil berbentuk lengkung mendatar menuju ke arah sumsum lanjutan dan kurang berkembang dengan baik.
Berdasarkan hasil pengamatan pada katak, dapat diketahui bahwa katak dalam keadaan normal saat diberi perlakuan maka terjadi refleks secara spontan atau automatik. Sedangkan pada katak yang telah dirusak otaknya dengan double-pithing keadaan mata dan kepalanya sama  dengan katak normal namun saat diberi perlakuan yang sama dengan katak normal tidak terjadi gerakan  refleks atau dengan kata lain katak tersebut tidak lagi beraksi.




BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa Sistem saraf berfungsi untuk mengoordinasikan seluruh aktivitas pada tubuh hewan. Sel penyusun sistem saraf dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sel saraf/neuron dan sel glia. Sel neuron berfungsi untuk menerima dan meneruskan impuls, sedangkan sel gliaberfungsi untuk mendukung struktur dan funsi sel neuron, tetapi tidak terlibat secaralangsung dalam proses perjalanan impuls.
Sel saraf bekerja dengan cara  menimbulkan dan menjalarkan impuls (potensi aksi). Impuls dapat menjalar pada sebuah sel saraf, tetapi dapan menjalar ke sel lain dengan melintasi senaps. Penjalaran ini dapat terjadi dengan cara transmisi elektron atau transmisi kimiawi

B.     Saran
Demikianlah laporan praktikum ini tentunya ini semua jauh dari kesempurnaan , kritik dan saran yang konstruktif kami harapkan demi perbaikan laporan praktikum ini agar lebih baik. Dan akhirnya , semoga semua apa yang kitapelajari bisa bermanfaat bagi orang lain dan khususnya bagi diri kita dan terutama bagi perkuliahan Fisiologi Hewan supaya kita bisa menambah khasanah ilmu dan menambah pengetahuan, amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar